Gerakan Isometrik pada Pasien Stroke

By Annas Pavecious Categories: Fisioterapi

gerakan-isometrik-pada-pasien-strokeOrang yang mengalami masalah penyakit stroke sungguh disayangkan karena walaupun telah sembuh, namun gejalanya akan terus terbawa yaitu kecacatan sebagian fungsi saraf yang tidak bekerja. Anda sudah tahu tentunya jika saraf merupakan serat-serat yang menghubungkan organ-organ tubuh dengan sistem saraf pusat (yakni otak dan sumsum tulang belakang) dan antar bagian sistem saraf dengan lainnya.

Saraf menjalankan tugas sebagai fungsi perasa (saraf sensorik), fungsi penggerak (saraf motorik), fungsi otonom yang mengatur perkemihan, defekasi atau buang air besar, berkeringat (saraf otonom), dan fungsi luhur (otak). Oleh karena itu gangguan pada fungsi saraf dapat berupa gangguan sensorik, gangguan motorik, gangguan otonom, dan gangguan fungsi luhur.

Jadi pasien stroke dapat mengalami salah satu atau beberapa gangguan fungsi di atas, tergantung bagian otak mana yang mengalami kerusakan. Walaupun begitu, gangguan fungsi yang paling sering terjadi pada pasien stroke adalah gangguan fungsi motorik (gangguan gerak). Pada umumnya seorang pasien stroke akan dapat langsung kelihatan mengalami gangguan fungsi motoriknya (gangguan gerak) dibandingkan dengan gangguan fungsi saraf yang lainnya.

Gangguan gerak yang terjadi misalnya adalah kesulitan untuk duduk, berdiri, dan berjalan. Selain itu dapat juga terjadi kesulitan makan, mandi, menulis, dll. Gangguan – gangguan fungsi tersebut dapat dipulihkan atau diminimalkan dengan pengobatan dan rehabilitasi (fisioterapi) berupa latihan gerak. Menurut salah satu penelitian, dengan latihan fisik yang benar dan teratur ; 80 % penderita stroke dapat berjalan tanpa bantuan, 70 % penderita stroke mampu melakukan aktifitas mengurus diri sendiri, dan 30 % penderita stroke dapat kembali bekerja. Salah satu bentuk latihan gerak tersebut adalah senam stroke.

Apakah yang dimaksud dengan senam stroke? Senam stroke adalah suatu senam yang dilaksanakan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup pasien stroke. Senam stroke mengandung unsur penyembuhan (kuratif) agar pasien stroke menjadi sembuh, unsur preventif (pencegahan) agar pasien stroke tidak mengalami serangan stroke ulangan, dan juga unsur rekreatif (hiburan) yang membuat penderita stroke terhibur.

Mengapa senam stroke perlu dilakukan? Senam stroke perlu dilakukan karena meiliki banyak manfaat. Manfaat-manfaat tersebut adalah :

  • Kekuatan otot (fungsi motorik) bertambah. Bagian tubuh yang mengalami gangguan (kelemahan) dikuatkan supaya bisa bergerak dengan lebih baik. Anggota tubuh yang sehat dilatih untuk membantu anggota tubuh yang sakit.
  • Keluwesan bergerak lebih terwujud
  • Koordinasi gerakan menjadi lebih baik
  • Bagian tubuh atau anggota tubuh terhindar dari spastisitas/ kekakuan yang berlebihan, kontraktur, dll
  • Aliran darah ke seluruh tubuh menjadi lebih lancer
  • Tubuh terasa lebih segar
  • Jiwa menjadi senang karena bertemu dengan sesama pasien stroke.

Melalui uraian di atas, dapat kita lihat bersama betapa pentingnya senam stroke. Manfaat-manfaat dari senam stroke dapat diperoleh apabila penderita bersama dukungan keluarga dengan tekun dan sabar melaksanakan senam stroke. Walaupun saat ini belum semua rumah sakit menyelenggarakan kegiatan senam stroke, tetapi untuk masa yang akan datang diharapkan semakin banyak rumah sakit yang menyelenggarakan kegiatan senam stroke.(YHP)

Setelah sembuh dari stroke atau setelah pulang dari perawatan di rumah sakit, pasien tetap membutuhkan latihan fisik. Latihan ini berguna untuk membuat semakin pulih, menjaga tetap segar, dan mencegah berbagai komplikasi yang mungkin timbul. Aktifitas fisik atau latihan fisik yang diberikan pada pasien post stroke disesuaikan dengan kondisi pasien. Pasien yang belum dapat berdiri akan menerima latihan yang berbeda dengan pasien yang sudah dapat berjalan.

Beberapa jenis latihan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Latihan yang bersifat aerobik :

a. Berjalan
b. Bersepeda statis
c. Treadmill

Latihan dilaksanakan 3 sampai 4 kali seminggu selama 20 sampai 30 menit.

2. Latihan untuk penguatan otot : beban ringan atau terukur, dengan gerakan isometrik, dilakukan 2 sampai 3 kali seminggu.

3. Latihan untuk menjaga fleksibiitas (kelenturan otot). Kegiatan ini penting sekali untuk mencegah kontraktur, dilaksanakan 2 sampai 3 kali seminggu.

4. Latihan koordinasi dan keseimbangan. Kegiatan ini dilakukan 2 sampai 3 kali seminggu.